MIMPIKU TERWUJUD BEASISWA DI UGM

http://dsniamanah.or.id/wp-content/uploads/2017/12/Poster-Sunatan-Masal.jpg


Saya Muhammad Fathikur Rafi, lahir dan besar di Batam. Kedua orang tua saya adalah transmigran yang berpindah dari Jawa Timur untuk mengadu nasib di Batam, tempat yang di masa itu menjanjikan peluang karena direncanakan menjadi kota industri. Kedua orang tua saya lulusan SLTA. Ketika tiba di Batam, tentu tidak mudah untuk langsung bisa hidup nyaman di tempat yang benar-benar baru, jauh dari keluarga besar, dan tanpa ijazah yang bisa menjadi nilai tawar yang tinggi di mata perusahaan. Selama di Batam, terhitung berkali-kali kedua orang tua saya berpindah tempat tinggal.

Berpindah karena adanya penggusuran, karena memang tanah yang didiami bukanlah milik keluarga saya. Hingga pada akhirnya kami tinggal di hunian kami saat ini, suatu rumah kayu di kawasan rumah liar di Tanjung Piayu. Tentu dengan ketakutan yang sama akan penggusuran.

Saya menghabiskan masa kecil di Batam, mulai dari lahir hingga lulus SD. Sejak kecil saya sudah memiliki kesadaran bila saya tidak dilahirkan di keluarga yang berada, maka mimpi saya sejak awal ialah ingin mengangkat harkat dan martabat keluarga, ‘menjadi orang’ istilahnya. Singkat cerita masa SD saya tutup sebagai salah satu lulusan terbaik di angkatan. Ketika lulus SD, sejatinya dengan NEM yang saya dapat, peluang saya untuk diterima di SMP favorit di batam terbuka. Namun kala itu ada tawaran dari pihak DSNI Amanah yang bekerja sama dengan Dompet Dhuafa untuk menempuh pendidikan di Bogor. SMP dan SMA SMART Ekselensia namanya, jenjang pendidikan sekolah menengah yang ditempuh secara akselerasi (6 tahun menjadi 5 tahun); bebas biaya mulai dari makan sehari-hari, kebutuhan harian, bahkan hingga tiket pulang pergi ke Batam; serta berasarama. 

Pada mulanya ada keraguan untuk menerima tawaran ini. Bagaimana tidak, seorang anak usia 12 tahun yang tidak pernah berpisah dari orang tua, harus merantau jauh ke Bogor. Namun di sisi lain saya juga sadar, bila tidak saya ambil kesempatan ini, maka saya akan membebani kedua orang tua saya yang saat itu juga harus membiayai sekolah kakak dan adik saya. Saat semakin bimbang dengan keputusan yang akan di ambil, ibu saya berkata pada saya “Pik (panggilan masa kecil saya), kalau kamu di Batam terus, nanti sudah besar mau jadi apa? Pendidikan di Jawa itu lebih baik daripada di Batam”, Ibu saya meyakinkan, walau tetap saya tangkap sirat berat hati ketika ia menyampaikan kalimat itu. Tapi itu cukup meyakinkan saya untuk merantau ke Bogor.
Maka singkat cerita, saya ambil kesempatan itu, mengikuti rangkaian seleksi mulai dari seleksi berkas, uji kemampuan mata pelajaran, hingga tes psikotes. Saya lulus, satu-satunya dari Batam (seleksi dilaksanakan di 27 provinsi di seluruh Indonesia). Saya pun terbang meninggalkan tanah kelahiran saya kota batam.

Pada akhirnya saya sadar bila keputusan saya memilih SMART Ekselensia sebagai batu loncatan saya menuju kesuksesan adalah pilihan yang tepat, mungkin pilihan terbaik di hidup saya. Di sekolah ini saya dibina oleh guru-guru terbaik, penyayang, lagi perhatian. Keilmuan saya benar-benar berkembang di sini. Selain itu bukan hanya bidang akademik yang menjadi fokus, spiritualitas dan softskills pun turut diasah dalam rangka mempersiapkan para peserta didik untuk membuktikan bila anak marjinal pun dapat memberi karya bagi bangsa. 5 tahun saya bersekolah di sana, pada akhirnya saya lulus sebagai salah seorang lulusan terbaik di sekolah.

Berbeda dengan kebanyakan anak-anak yang baru lulus SMA, sejak awal saya sudah memiliki target untuk melanjutkan kuliah di Institut Teknologi Bandung, idaman setiap anak saintek di Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, saya menargetkan FTI ITB, salah satu fakultas yang paling sulit untuk dimasuki di Indonesia. Sementara pilihan kedua saya jatuhkan ke Universitas Gadjah Mada prodi Teknik Fisika, karena UGM juga merupakan universitas terbaik di Indonesia, ditambah lagi UGM berlokasi di Jogja, kota budaya yang didamba. Pilihan terakhir saya jatuhkan ke Prodi Geofisika Universitas Indonesia. Pilihan yang cukup gila karena tiga universitas itulah yang terbaik di Indonesia. Namun, itu juga yang melecut saya untuk belajar ekstra keras, karena bagaikan menghadapi hidup dan mati. Berkali-kali try out SBMPTN dilaksanakan, dan nilai saya selalu berada di deretan teratas sekolah. Ada sedikit kepercayaan diri. Hingga ketika masa pengumuman, ternyata bukan ITB yang menjadi rezeki saya, melainkan Universitas Gadjah Mada.

Pada awalnya tentu ada rasa kecewa karena gagal memasuki jurusan yang benar-benar saya inginkan. Namun pada akhirnya kekecewaan itu berganti menjadi syukur. Hei, kamu masuk UGM, lihat teman-temanmu yang belum lulus ke PTN, bersyukurlah!. Maka saya pun memasuki babak baru kehidupan saya, berkuliah di UGM.

Karena keterbatasan biaya, maka untuk berkuliah pun saya mendapatkan beasiswa dari pemerintah, bebas uang kuliah dan ada uang saku setiap 3 bulan. Pada tahun pertama saya memilih untuk tinggal di asrama UGM, lagi-lagi karena beasiswa. Namun beasiswa asrama ini hanya untuk mahasiswa tahun pertama, maka memasuki tahun kedua, saya mencari beasiswa asrama lainnya, yaitu Beasiswa Rumah Kepemimpinan. Rumah Kepemimpinan merupakan beasiswa pembinaan SDM strategis yang ditujukan untuk menempa para mahasiswa yang terpilih untuk diproyeksikan menjadi calon-calon pemimpin bangsa. Beasiswa ini hanya tersedia di 11 universitas terbaik di seluruh Indonesia, salah satunya UGM. Lulusan dari asrama ini pun sudah terbukti kualitasnya dengan menempati pos-pos strategis di berbagai bidang di Indonesia.

Saat ini, selain berkuliah kesibukan saya adalah menjalani pembinaan di Rumah Kepemimpinan, menjadi pengurus harian di organisasi kemahasiswa Fakultas Teknik UGM, mengikuti berbagai lomba, serta bekerja sampingan sebagai desainer grafis.

Saya masih menghidupkan mimpi untuk mengangkat harkat dan martabat keluarga saya. Mimpi itu tetap hidup hingga saat ini, karena satu kalimat yang diucapkan ibu saya bertahun-tahun lalu, “Kalau di Batam terus, kamu mau jadi apa?”. Tanpa kesempatan bersekolah di Bogor itu, tidak terbayang apa yang saya lakukan saat ini, sudah menjadi orang seperti apa saya.

Selain satu kalimat legendaris itu, tentu ada banyak hal yang juga mendorong saya untuk menjadi orang yang berhasil. Tidak terhitung betapa banyaknya pihak yang terlibat dalam mengantarkan saya ke posisi saya saat ini. Pihak-pihak yang layak mendapatkan lebih dari sekedar ucapan terima kasih. Maka itulah yang mendorong saya untuk terus mengejar mimpi saya. 

Terima kasih kepada DSNI Amanah dan Dompet Dhuafa atas kesempatan mengenyam pendidikan di SMART Ekselensia, tanpanya tentu saya tidak akan menjadi diri saya yang sekarang. Terima kasih pula kepada Pak Siswanto yang senantiasa membimbing saya di masa-masa pengembangan diri ini. Serta banyak terima kasih pada para donatur DSNI Amanah yang bersedia menyisihkan sebagian hartanya untuk orang-orang yang membutuhkan, orang-orang yang juga layak mendapat kesempatan untuk berkembang.

Jadilah kita bagian dari masa depan generasi bangsa agar mereka bisa menggapai mimpinya mewujudkan sekolah terbaik yang berada di Indonesia “Membawa Berkah Monolak Musibah”, tuluskan seyum mereka denga peduli kita. Donasi bisa langsung ke layanan DSNI Amanah Masjid Nurul Islam kawasan Industri Batamindo Muka Kuning Batam

Atau Transfer ke Bni Syariah 07.0007.0709 Atas Nama Yayasan DSNI Amanah Batam
Lanyanan jemput Donasi bisa menghubungi 087894269053

Atas nama Lembaga kami haturkan Terimakasih telah memberikan kontribusi dalam mencerdaskan generasi dengan peduli pendidikan, hanya Allah SWT yang memberikan balasan dengan penuh keberkahaan, Aamiin Ya Rabbal alamin

www.dsniamanah.or.id
www.instagram.com/
dsni_amanah/

Share Button
Open chat
Selamat Datang, Ada Yang Bisa Dibantu
Assalamu'alaikum,
Silahkan bertanya kepada kami. Kami siap membantu anda.
Powered by
%d blogger menyukai ini:
Lewat ke baris perkakas