| Berkurban Demi Kesatuan Dan Kejayaan Umat Islam |
|
KHUTBAH IDUL ADHA 1429H
Oleh: Ir. Moch. Arief
(KHUTBAH PERTAMA)
Allâhu Akbar 9X, Lâ ilâha illaLlâhu HuwaLlâhu Akbar, Allâhu Akbar WaliLlâhil hamd. Ma'âsyiral Muslimîn RahimakumuLlâh, Pagi ini umat Islam di seluruh dunia menyambut dan merayakan hari yang agung ini dengan alunan takbîr, tahmîd, tashbîh, dan tahlîl. Tak hanya hari ini, kalimat thayyibah itu akan terus menggema selama hari tasyrîq. Semua kalimat yang dilantunkan itu dapat menggugah kembali kesadaran kita akan status kita sebagai hamba Allah yang wajib mengabdi kepada-Nya. Maka marilah kita mengagungkan, memuliakan, dan membesarkan Asma Allah yang memelihara langit dan bumi serta segala isinya. Dan marilah kita mantapkan langkah untuk meniti sebaik-baiknya jalan yaitu ketaqwaan kepada Allah SWT. Saat ini jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia juga sedang berkumpul di tanah suci memenuhi panggilan ilahi, menunaikan ibadah haji. Lautan manusia itu membuat panorama amat menakjubkan. Sekalipun mereka beraneka ragam suku, bangsa, bahasa, dan warna kulit, namun mereka berbaur, berpadu, dan menyatu dalam menjalankan syariat Allah SWT. Mereka serentak menyatakan kesediaannya untuk memenuhi panggilan Allah: ”Aku datang untuk memenuhi panggilan-Mu ya Allah, Aku datang untuk memenuhi panggilan-Mu, Aku datang untuk memenuhi panggilan-Mu; tiada seukutu bagi-Mu, Aku datang untuk penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kekuasaan hanya milik-Mu; tiada sekutu bagi-Mu.” Tidak nampak ada perselisihan, perpecahan, dan permusuhan di antara mereka. Sebaliknya, segala atribut yang biasanya menjadi biang perpecahan dan perselisihan ditanggalkan. Warna pakaian yang mereka kenakan, aktivitas ibadah yang mereka kerjakan, dan lantunan kalimat yang mereka ucapkan benar-benar menunjukkan bahwa mereka adalah ummat yang satu. Ummat yang dipersatukan oleh akidah Islam. Sungguh, sebuah pemandangan yang membahagiakan hati orang-orang beriman, yang senantiasa merindukan persatuan dan kesatuan. Sementara umat Islam di tempat lain, di seluruh dunia, juga tak mau ketinggalan. Sambil melantunkan takbir, mereka beramai-ramai mendatangi lapangan atau masjid, tempat shalat ied diselenggarakan. Ketika shalat berlangsung, mereka berjajar rapi menghadap kiblat yang sama dan bergerak serentak mengikuti komando seorang imam. Sambil bersimpuh mengagungkan Asma Allah, mereka menyimak uraian ayat-ayat-Nya yang disampaikan khathib. Usai shalat, dilanjutkan dengan penyembelihan dan pembagian hewan kurban. Di antara umat Islam yang mampu, menyisihkan sebagian hartanya untuk berkurban. Daging hewan kurban itu pun lantas dibagikan kepada masyarakat luas. Rangkaian peristiwa ini juga mengukuhkan, bahwa umat Islam adalah umat yang satu. Umat yang memiliki Rabb yang sama, Rasul yang sama, Kitab Suci yang sama, dan kiblat yang sama. Allâhu Akbar 3X, WaliLlâhil hamd Ma'âsyira al-Muslimîn Ra himakumullâh, Sungguh amat disayangkan, persatuan yang diperlihatkan dalam ibadah haji dan hari raya 'Idul Adha ini justru kontras dengan realitas keseharian umat Islam hari ini. Persatuan umat Islam kini sedang terkoyak. Perpecahan ditubuh ummat Islam menjadi pemandangan yang memiriskan. Potret buram persatuan umat Islam kian diperparah dengan perpecahan dan pertikaian antar kelompok akibat perbedaan madzhab, partai, kelompok, golongan, dan kepentingan. Akibatnya, mereka mudah diadu domba oleh musuh-musuhnya. Siapa lagi kalau bukan kaum munafiq dikalangan ummat Islam sendiri, dan kaum kafir yang tidak rela ummat Islam bersatu. Di negara-negara berpenduduk muslim baik di Asia dan Afrika menjadi bulan-bulanan kaum penjajah untuk terus diadu domba, bertikai, dibunuh dan saling membunuh sehingga darah ummat Islam tumpah dimana-mana dan harga nyawa ummat Islam hari ini bergitu rendah dan bahkan lebih rendah harganya dari seekor sapi di India. Ummat Islam tidak mendapatkan perlindungan dan pembelaan yang memadai dari saudaranya ummat Islam yang lain. Harga diri ummat Islam hari ini telah diinjak, dihina dan direndahkan, sementara kekayaan alamnya dikuras habis oleh kepentingan kaum penjajah laknatullah. Tidak itu saja, serangan badai materialisme kapitalis yang tak terbendung mengoyak tubuh ummat Islam melalui globalisasi informasi dan budaya. Sendi-sendi agama yang menjadi pilar utama kehidupan ummat Islam goyah dan patah, berganti dengan sendi yang mengubah semuanya menjadi serba berorientasi materi, uang dan duniawi semata. Bangunan sosial masyarakat Islam diserbu mati-matian oleh serangan budaya materi dan hedonis cinta dunia yang digelontorkan oleh pemilik modal besar para kapitalis melalui media baik cetak, maupun elektronik sepanjang usia hari. Moral agama dan budaya luhur luntur dan hilang diterpa oleh era baru gaya hidup pergaulan bebas atau free sex. Porno aksi dan porno grafi merajalela mendapat simpati, digandrungi dan dibela sampai mati. Kaum muda tidak lagi memiliki rasa malu untuk mengkonsumsi miras, narkoba, dan benda haram lainnya, layaknya mengkonsumsi sembako untuk keseharian. Sistem sosial dari muamalah yang mengagungkan akhlaqul karimah hilang berubah menjadi kebobrokan moral penuh siasat, tipu daya, kelicikan, suap, korupsi, nepotisme dan sarat dengan kolusi. Akibatnya, sesama ummat Islam menjadi asing, tidak saling kenal mengenal. Mereka hidup sendiri dipenuhi dengan egoisme pribadi tanpa tahu dan mahu tahu urusan saudaranya ummat Islam yang lain. Dunia materi telah menjadi darah daging ummat Islam. Dan kita semua melihat, mall-mall dan pusat-pusat perbelanjaan penuh sesak sarat dengan pengunjung dari ummat Islam, sebaliknya masjid dan mushallah serta kegiatan ibadah dan dakwah sepi dari partisipasi ummat Islam. Mengaji atau talabul ilmi mulai ditinggalkan. Chatting via internet ramai malah digemari. Jama’ah shalat bisa dihitung dengan jari, ummat yang bersedekah tidaklah bertambah, puasa pun tidaklah menambah kebaikan dalam kontrol diri, haji pun hanya berbilang angka tanpa makna mabrur yang penuh dengan berkah. Kehidupan sosial masyarakat kering kerontang tanpa ruh iman yang bergelora, yang tinggal hanyalah baju, kulit, topeng dan kepalsuan duniawi. Itulah potret syariat yang ditinggalkan oleh ummat Islam. Betapa kehidupan ummat Islam hari ini, telah terkoyak dan tercabik-cabik! Allâhu Akbar 3X, WaliLlâhil hamd Ma'âsyira al-Muslimîn Ra himakumullâh, Perenungan sekaligus pertanyaan yang patut diajukan adalah mengapa realitas mengenaskan seperti ini bisa terjadi? Jika dikaji dengan cermat, semunya berpangkal pada sikap umat Islam sendiri yang telah mengabaikan prinsip-prinsip penting dalam persatuan yang digariskan oleh Islam. Mari kita melihat beberapa ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bagaimana ummat Islam harus menegakkan persatuan dan kesatuan. QS: Ali Imran ayat 102-103
”(102) Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (103) Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.
QS: Al-Hujurat ayat 10,
”Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”. QS: At – Taubah ayat 71, ” Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Hal yang tidak boleh ditinggalkan didalam penegakan persatuan dan kesatuan diantara ummat Islam adalah kesamaan akidah sebagai dasarnya. Akidahlah yang menyatukan ummat Islam atas perbedaan bahasa, suku bangsa, etnis, budaya, golongan, dan bahkan paham atau aliran dalam cabang keagamaan, kesukuan, kebangsaan, patriotisme dan sejenisnya. Mereka semua adalah bersaudara sebagai sesama orang beriman. Apabila muncul perselisihan, maka segera didamaikan. Perpecahan dan perselisihan harus dihindari. Ummat Islam harus saling menjaga, memelihara dan melakukan pembelaan terhadap ummat Islam yang lain sekiranya terjadi kedhaliman. Rasulullah bersabda: ”Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, tidak boleh mendzaliminya dan tidak akan membiarkannya (dizhalimi).” (Muttafaq 'alaih) Dengan demikian, siapa pun yang berakidah Islam, tanpa memandang latar belakang; suku, bangsa dan bahasa adalah saudara. Sedemikian eratnya persatuan itu, hingga Rasulullah saw mengumpakan mereka laksana satu tubuh, yang jika ada salah satu organ yang sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur (HR. Muslim). Sebaliknya, setiap paham yang menjadikan selain akidah Islam sebagai dasar persatuan dan kesatuan itu dinyatakan oleh Nabi sebagai muntinah (busuk), dan dengan keras dilarang oleh Rasulullah saw.: ”Tidak termasuk golongan kami orang-orang yang berseru kepada ashabiyyah, yang berperang karena ashabiyyah, dan mati karena ashabiyyah.” (HR Abu Dawud). Apabila umat Islam kembali menjadikan akidah mereka sebagai dasar persatuan dan kesatuan mereka, niscaya realitas menyedihkan seperti ini tidak akan terjadi. Sejarah telah membuktikan, akidah Islamlah yang mempertautkan hati suku Aus dan Khajraj di Madinah. Padahal, sebelumnya kedua suku itu saling bermusuhan berpuluh-puluh tahun. Akidah ini pula yang berhasil mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Kendati mereka berasal dari suku dan tanah air yang berbeda, namun mereka bisa bersatu. Ikatan akidah ini pula yang mempersatukan seluruh umat Islam di seluruh dunia selama berabad-abad hingga menjadi umat yang paling kuat dan disegani dalam sepanjang sejarah. Allâhu Akbar 3X, WaliLlâhil hamd Ma'âsyira al-Muslimîn Ra himakumullâh, Ummat Islam yang bersatu diatas landasan akidah yang kokoh, sesungguhnya seperti apakah ummat ini seharusnya? Allah SWT sendiri katakan di dalam Al Qur’an surat Ali Imran ayat 110, ”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. Benarkah ummat Islam hari ini telah menjadi ummat yang terbaik, sebagaimana Allah SWT telah nyatakan di surat Ali Imran 110 tersebut? Bukankah ummat Islam hari ini diwarnai dengan perpecahan, pertikaian, pembunuhan, penghinaan, kekalahan dan dipinggirkan dari gelanggang kehidupan menjadi ummat yang kalah dari segala sendi kehidupannya. Kita bisa bertanya dimanakah peran ummat Islam hari ini di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, politik, pertahanan dan keamanan? Betulkah ummat terbaik hanya menjadi penonton, pengguna, bukan sebaliknya menjadi pemain dan bahkan pemegang peran disegala aspek kehidupan modern ummat Islam hari ini. Inilah PR besar kita ummat Islam untuk membuktikan bahwa ayat Allah tersebut benar dan kita semua sebagai ummatnya adalah bukti terhadap kebenaran al Qur’an tersebut. Subkhanallah allahu akbar! Allâhu Akbar 3X, WaliLlâhil hamd Ma'âsyira al-Muslimîn Ra himakumullâh, Kita ummat Islam harus terus memperbaiki diri untuk menajadi bukti sebagai umat terbaik. Beberapa karakter kepribadian unggul yang harus dimiliki oleh ummat Islam diantaranya adalah: (1) KAFA’AH atau KAPABILITAS. Ummat Islam tidak boleh hanya bertambah di dalam jumlahnya, akan tetapi juga harus bertambah kualitasnya, memiliki kinerja tinggi, kemampuan, ketrampilan serta keahlian di bidangnya masing-masing. Ummat Islam harus mampu memberikan nilai tambah atau ”value added” bagi sesamanya. Rasulullah bersabda, ”Khairunas anfa’uhum linnas” bahwa sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat kepada sesamanya. Dengan kata lain, ummat Islam harus di dorong menjadi pemberi manfaat bukan saja penerima manfaat, menjadi penolong bukan yang ditolong, menjadi pendorong bukan yang di dorong, menjadi pelindung bukan yang dilindungi, menjadi pemimpin, leader, dan pemegang peran dari setiap aspek kehidupan baik ekonomi, sosial, pendidikan, budaya, politik, lingkungan, dan seterusnya. Bukankah tugas kehidupan kita adalah beribadah kepada Allah dan pada saat yang sama kita ummat Islam adalah wakil Allah di permukaan dunia ini dengan tugas penegakan risalah Islam. Sebagaimana firman Allah Qur’an Surat Ad-Dzariyat ayat 56, ”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”
Dan, surat Al Anbiya ayat 107,
”Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”
Sungguh tugas yang mulia yang datangnya dari Allah SWT dan tugas ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki akidah Islam yang benar dan memiliki kualitas dalam menjalankan tugas.
Rasulullah bersabda:
”Mukmin dan muslim yang kuat (berkualitas) jauh lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah (yang tidak bermutu)”. HR. Imam Muslim.
(2) HIMMAH atau KESUNGGUHAN (ETOS KERJA). Ummat Islam harus memiliki kesungguhan atau etos kerja di dalam menjalankan tugas-tugasnya. Etos kerja itu muncul karena ada semangat atau ghirah yang membara dalam dada setiap muslim karena dorongan yang kuat itu lahir atas kesadaran bahwa apa yang menjadi tugasnya adalah dalam rangka persembahan (dedikasi) tertinggi kepada Allah SWT dan perjuangan terhadap agama-Nya yang mulia, dinul Islam. Cita-citanya dibangun atas dasar kecintaan terhadap Islam dan kerinduan atas kejayaan ummat Islam. Heroik inilah yang dimiliki oleh generasi para sahabat nabi seperti Abu Bakar As-Sidiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, sayyidina Ali kw, syyidina Hamzah, Khalid bin Wali dan seterusnya, yang dengan penuh semangat dan gigih menjadi pahlawan-pahlawan perjuangan Islam di generasi pertama dengan hasil gemilang. Islam tersebar di seluruh jazirah Arabia, dan pada generasi sesudahnya melebar ke benua afrika, asia tengah, sebagian eropa. Dan kini, Islam telah tersebar di seantero belahan dunia.
Allah berfirman di dalam Qur’an surat At-Taubah ayat 105,
”Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang Telah kamu kerjakan.” Itulah salah satu modal dan kekuatan yang ada pada tubuh ummat Islam, ketika akidah terhunjam di dalam qalbu melahirkan kecintaan dan semangat heroik untuk memperjuangkan Islam, maka lahirlah karya-karya besar atau gerakan besar yang mengubah wajah dunia untuk mulia dengan Islam. (3) KEJUJURAN atau KREDIBILITAS. Kejujuran adalah modal utama Rasulullah di dalam memperjuangkan Islam, sehingga masyarakat termasuk orang-orang kafir waktu itu menyebutnya dengan gelar Al Amin, manusia yang dapat dipercaya. Kejujuran adalah sikap universal yang dibutuhkan oleh seluruh manusia. Semua orang menyukainya termasuk lawan-lawan Rasululullah sendiri. Tidak dipungkiri kejujuran atau kredibilitas adalah modal utama didalam membangun kepercayaan. Tanggung-jawab hanya akan diberikan kepada orang-orang yang mampu memikulnya, dengan syarat utama adalah kejujuran atau keamanahannya. Bagaimana mungkin risalah yang mulia didalam penegakan dinul Islam dibebankan kepada orang-orang yang khianat, dan jahil. Tidak masuk akal dan tidak mungkin, dinul Islam yang mulia digerakkan oleh orang-orang yang tidak amanah. Karenanya, ummat Islam harus menjadi orang menjaga kesetiaan, kejujuran dan amanah. Kredibilitas akan terbangun dengannya, dan kewibawaan Islam akan bangkit oleh ummat Islam yang jujur dan amanah. (4) KEJAMA’AHAN atau TOGETHERNESS. Keterasingan yang terjadi di tubuh ummat Islam hari ini, karena sebagian besar ummat Islam tidak merasa dirinya adalah menjadi bagian dari ummat Islam yang lain. Ummat Islam adalah saudara seiman, tidak boleh ada sesuatupun yang mencerai beraikannya. Bahkan yang harus dilakukan adalah membangun perasaan kebersamaan bahwa ummat Islam adalah saudara dimanapun mereka berada, sekalipun berbeda suku, bangsa, bahasa, adat istiadat, dan latar belakang. Ummat Islam ibarat satu tubuh bila ada anggota tubuh yang sakit maka anggota tubuh yang lain juga merasakan sakit, dan sebaliknya bila ada anggota tubuh yang bahagia, maka yang lain juga merasakan kebahagiaan itu. Begitupun dalam perjuangan penegakan dinul Islam, kebersamaan dibutuhkan karena persoalan ummat dan tantangan yang ada tidak bisa diselesaikan hanya oleh satu orang saja. Ummat Islam harus bersatu, saling bekerjasama membangun sinergitas agar persoalan-persoalan yang ada bisa diurai dan dicarikan jalan keluarnya dengan baik. Islam dan ummatnya akan menjadi kekuatan dari segenap sendi kehidupan sekiranya ummat Islam mampu tampil bekerjasama dalam gerak kebersamaan dalam memperjuangkan Islam dalam bentuk karya nyata yang dibutuhkan oleh ummat.
Allah berfirman di dalam QS. Ash-Shaft ayat 4,
”Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”
Rasulullah pun bersabda:
”Seorang Mukmin bagi Mukmin yang lain itu laksana bangunan yang masing-masing bagian akan menguatkan bagian lainnya.” (HR. Ahmad, al-Tirmidzi, dan al-Nasa'i). Allâhu Akbar 3X, WaliLlâhil hamd Ma'âsyira al-Muslimîn Rahimakumullâh, Alkisah, diatas mimbar salah satu rumah allah di dataran India, seorang lelaki tua dengan sorot mata tajam membelakangi arah kiblat, menghadap jama’ah shalat jum’at yang khusu’ mendengarkan khotbahnya. Suaranya kadang tegas, kadang lantang menantang, kadang perlahan membuat dada bergetar dan kepala tertunduk. Itulah ia mengeluarkan gundah gulananya, mengeluhkan kondisi India yang semakin parah. Tak terhitung jumlah dan jenis kemaksiatan yang dipertontonkan para pelakunya. Pemandangan yang sangat jauh dari tuntunan ilahi berserakan di mana-mana. Pilu, dengan lirih ia melambungkan tanda tanya. Belum lahirkah di tanah ini seorang pemuda yang akan meneruskan perjuangan dakwahnya, padahal ia telah renta dan ajal sudah tersenyum-senyum menantinya. Lelaki tua itu berkali-kali mengatakan, betapa ia sangat mengharapkan munculnya pemuda yang peduli akan kondisi umatnya, mengajak mereka ke pangkuan syareat dan menegakkan kalimat Allah di muka bumi. Antara jama’ah yang mendengar nasehat itu, tampak sepasang mata bugar tak berkedip memandang lelaki tua itu. Telinganya tajam menyimak keluhan hati sang Syaikh. Ia begitu terkesima. Seusai shalat jum’at, ketika satu persatu jama’ah pulang ke tempatnya masing-masing, pemuda itu menghampiri sang Syaikh. Dengan penuh rasa ta’dzim ia berkata mantap: ” Ya Syaikh, sayalah pemuda itu!”. Akhirnya, sejarahlah yang mencatatnya. Allah tidak menyia-nyiakan jerih payah hamba-Nya. Pemuda itu kemudian hari berhasil mendirikan gerakan Islam yang sangat diperhitungkan. Siapakah pemuda itu? Dialah Abul A’la Al Maududi pendiri Jemaat Islami. Bagaimana dengan kita ummat Islam yang ada di tempat ini, Siapakah sosok pemuda yang akan bangkit dari tempat ini menajdi pelopor pergerakan Islam di sini? Sungguh, kita semualah ummat Islam yang ada di sini ditungguh oleh Islam dan ummatnya untuk bangkit memperbaiki diri, dan menyampaikan Islam kepada dunia. Majelis ta’lim di sini menunggu keaktifan anda, masjid dan mushallah menunggu kehadiran anda untuk memakmurkannya, dan seluruh masyarakat menunggu kebaikan dan partisipasi anda semua untuk bersama-sama melakukan perbaikan dan menegakkan kalimat Allah tegak dimuka bumi. Barakallahu li walakum fil qur’anil adzim.....................
KHUTBAH KEDUA Allâhu Akbar 9X, Lâ ilâha illaLlâhu HuwaLlâhu Akbar, Allâhu Akbar WaliLlâhil hamd. Ma'âsyira al-Muslimîn Rahimakumullâh, Selanjutnya, marilah kita tundukkan kepala kita dengan segala kerendahan hati, sambil menengadahkan tangan kita, untuk memanjatkan doa ke hadirat Allah SWT, Dzat Yang Maha Kuasa, dan Maha Perkasa: Ya Allah, ampunilah kaum mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, perbaikilah di antara mereka, lembutkanlah hati mereka dan jadikanlah hati mereka keimanan dan hikmah, kokohkanlah mereka atas agama Rasul-Mu saw, berikanlah mereka agar mampu menunaikan janji yang telah Engkau buat dengan mereka, menangkan mereka atas musuh-Mu dan musuh mereka, wahai Ilah yang hak, jadikanlah kami termasuk dari mereka. Ya Allah, perbaikilah sikap keagamaan kami sebab agama adalah benteng urusan kami, perbaikilah dunia kami sebagai tempat penghidupan kami, perbaikilah akhirat kami sebagai tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan kami di dunia sebagai tambahan bagi setiap kebaikan. Jadikanlah kematian kami sebagai tempat istirahat bagi kami dari setiap keburukan. Ya Allah, kami memohon pertolongan-Mu, meminta ampunan-Mu, sekali-kali kami tidak akan mengkufuri-Mu. Kami sepenuhnya iman kepada-Mu, dan berlepas diri dari siapapun yang durhaka kepada-Mu. Ya Allah, hanya kepada-Mulah kami mengabdi, beribadah dan sujud. Kepada-Mulah kami berlari dan menuju. Kami mendambakan rahmat-Mu, dan takut akan adzab-Mu. Sesungguhnya adzab-Mu yang sungguh-sungguh ditimpakan kepada kaum Kufar itu juga pasti akan ditimpakan kepada yang lain. Ya Allah, adzablah orang-orang Kafir yang telah menghalangi jalan-Mu, mendustakan para rasul-Mu, dan membunuhi para pembela-Mu. Ya Allah, Engkau tahu bahwa hati ini telah berhimpun dalam kecintaan kepaada-Mu, telah berjumpa dalam mentaati-Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu, telah terjalin dalam membela syariat-Mu. Maka, teguhkanlah ya allah ikatannya, kekalkan kasih sayangnya, tunjukilah jalan-jalannya, penuhilah hati kami dengan cahaya yang tiada sirna, lapangkanlah dada kami dengan limpahan iman kepada-Mu dan indahkan kepasrahan kami kepada-Mu. Hidupkanlah kami dengan ma’rifat kepada-Mu, dan matikanlah kami diatas kesyahidan di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik penolong. Ya Allah, kabulkanlah. Dan, curahkanlah kesejahteraan dan kedamaian kepada baginda Muhammad SAW, serta kepada keluarga dan para sahabat beliau. Amien Ya Rabbal’alamien. |