Antara Takdir Dan Hasil Akhir

p-subhan
Oleh : Drs. Subkhan M (Direktur DSNI Amanah)

Sering kita mendengar ketika seseorang menuai hasil panen namun tidak seindah yang dibayangkan diawal, mereka mempunyai sejenis kartu mati sebagai kata kunci, yah memang sudah “Takdir”. Sebuah kata yang diyakini mampu menjawab sederet pertanyaan terkait dengan ketidak berhasilan atas usahanya, terlebih dikuatkan dengan dalih bahwa nasib seseorang sudah digariskan oleh Allah Swt dizaman lauhulmahfud. Sepintas memang tidak ada yang salah dengan ungkapan tersebut, namun sesungguhnya bila kita cermati lebih jauh istilah “Takdir” tsb tidak lebih adalah kemasan bahasa yang terkesan tidak bisa menerima bantahan karena masuk teritorial tauhid. Dari sisi syari’at, siapapun kita haruslah maksimal dalam ikhtiyar, melihat hal ini muaranya lebih kepada penolakan / menghindar dari lisensi kegagalan.

Terlepas dari kaidah bahwa apapun yang terjadi dimuka bumi akan berjalan sesuai dengan rencana Allah, sebenarnya tidak bisa dipungkiri bahwa, seberapa banyak / seberapa besar yang dihasilkan dari suatu usaha, sesungguhnya itu berbanding lurus dengan seberapa besar seseorang berupaya. Ibarat spedo meter sebuah mobil, diposisi angka berapa jarum itu berada adalah berbanding lurus dengan seberapa kuat seorang driver menginjak gas, seberapa besar balon itu menggelembung juga berbanding lurus dengan seberapa banyak angin yang dimasukan. Sebuah konsep yang sangat sederhana dan sangat logis. Sehingga satu konklusi atau kesimpulan yang sangat bermakna bisa diambil dari konsep tersebut, bahwa manusia tidaklah di benarkan menyerah dan pasrah dalam usahanya sebelum diawali dengan ikhtiyar dengan maksimal, Tapi justru kesan yang muncul adalah berlindung dibalik ungkapan takdir atas ketidak suksesannya.

Memang tidak bisa kita pungkiri bahwa lakon setiap orang sangatlah berfariatif, kesuksesan seseorang juga beraneka warna, ada yang sangat sukses, ada yang impas bahkan ada juga yang gagal / pailit, dan disana takdir memang perperan, namun satu hal yang kita tidak boleh lupa, selain urusan kematian, rizqi dan jodoh seseorang, keberhasilan kita dalam mewujudkan sebuah impian atau harapan, Allah memberi keluasan kepada kita dengan takdir mu’alaqnya. Bahasa sederhana, sejauhmana keberhasilan seseorang itu seimbang dengan sejauhmana usahanya. Dengan demikian maka menjadi jelas apa tugas kita sebagai makhluq dihadapan Allah Swt dalam urusan impian, harapan dan cita-cita. Membuat perencanaan dan menjalankan apa yang direncanakan, memaksimalkan ikhtiyar serta meluruskan niat dengan terus melaksanakan evaluasi adalah tindakan yang pas untuk kita lakukan. Biarlah Allah Dzat yang maha bijaksana yang akan mengekskusi, Dia lebih mengetahui keputusan apa dan bagaimana yang akan di ambil, tidak ada satupun alasan buat kita untuk tidak bisa menerima, positif thinking, husnudzon dan terus semangat itulah sikap yang harus kita terima setelah Allah memberi keputusan, kita harus meyakini bahwa keputusan atau ketentuan Allah adalah yang terbaik buat kita, inilah konsep qona’ah yang sesungguhnya. Semoga kita termasuk orang yang terus bersemangat demi untuk meraih suatu impian yang mendapat ridha dari allah swt, Amin,,

 

Share Button
Lewat ke baris perkakas