ZAKAT YANG DIABAIKAN

45miskinBagi yang tidak memiliki kesanggupan alias tidak mampu, Islam adalah agama yang hadir untuk melakukan pembelaan kepada mereka. Orang-orang fakir ataupun miskin sehingga mereka tak sanggup memiliki rumah yang layak, bersekolah dengan baik,  berobat agar sehat ataupun tidak memiliki modal untuk berusaha,  orang-orang yang lemah batinnya karena baru masuk Islam ataupun karena diharapkan ke-Islaman-nya, orang-orang yang kesulitan membayar hutang karena alasan kebutuhan dasar, orang-orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan untuk tujuan yang halal baik untuk mencari nafkah ataupun mencari ilmu, orang-orang yang waktunya habis untuk perjuangan ataupun dakwah Islam sehingga tidak ada kesempatan baginya mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhannya,  orang-orang yang tidak merdeka ataupun dalam penguasaan tuannya, orang-orang yang  memiliki kepandaian ataupun tugas dari waliyul amri untuk urusan pengelolaan harta kaum muslimin, atau segala bentuk kebajikan yang dimaksuk dan untuk perjuangan dan pembelaan terhadap Islam dan kaum muslimin, maka Islam hadir menjadikan urusan itu semua menjadi hak agama dengan memberikan jaminan, solusi dan menjadikannya sebagai pilar utama, rukun Islam yaitu zakat. “Islam dibangun di atas lima perkara: Syahadat bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berhaji, dan berpuasa Ramadlan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Jaminan bagi mereka secara jelas dan detail dipaparkan di dalam QS. At-Taubah ayat 60,   “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan budak, orang-orang yang

berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”. Kelompok ini dinamakan dengan 8 golongan asnaf, dimana kaum muslimin yang berharta yang telah mencapai syarat rukunnya, diantaranya telah mencapainisab sebagai syarat minimal jumlah harta setara dengan 85 gr emas atau 20 dinar, telah mencapai haul waktu setahun, dan hartanya diperoleh dengan halal dan baik atau tayyib (atau sekitar 45 jutaan selama setahun), maka wajib dan harus baginya untuk dikeluarkan zakat. Kalau mereka menolak, Islam menghukuminya dengan kafir. Khalifah Abu Bakar As-Siddiq memerangi mereka orang-orang (Islam) yang menolak berzakat, atau urusannya diserahkan kepada Alloh SWT. Hal ini sesungguhnya menunjukkan betapa Islam memandang persoalan orang-orang miskin (fakir), persoalan zakat adalah perkara yang penting dan menjadi urusan yang besar. Dan, dipahami bersama bahwa kesuksesan kepemimpinan tergantung kepada seberapa besar keberpihakan mereka terhadap urusan orang-orang miskin atau dhuafa.

Namun realita ditengah-tengah masyarakat muslim kita hari ini, sebagai gambaran bahwa angka kemiskinan di Batam masih berkisar tiga puluh ribuan orang, di Indonesia dari berbagai versi masih sekitar empat puluh jutaan orang. Hal ini tentu angkanya lebih besar lagi kalau dilihat kenyataannya di masyarakat. Sementara itu, beragam program pengentasan kemiskinan oleh pemerintah tidak kunjung berhasil dan cenderung menjadi ‘proyek’ dan banyak diselewengkan. Para pegiat masyarakat ataupun zakat, sebagiannya selain keterbatasan dana juga masih terjebak pada program-program karitatif atau bantuan sesaat sekedar menggugah empati untuk sekedar peduli saja kepada para dhuafa. Lihatlah kegiatan-kegiatan semisal baksos, rehabilitasi jompo, pengobatan gratis, ambulan gratis dan semisalnya. Tentu hal demikian adalah baik, namun belum menyentuh pada esensi dari tujuan disyariatkannya zakat itu, yang tentu maknanya tidaklah hanya karitatif, sekedar empati. Pun, juga pemahaman di sebagian besar masyarakat muslim kalau berbicara zakat itu masih kewajiban yang bersifat setahun sekali. Naifnya, kadang zakat hanya dipahami hanya zakat fitrah yang memang setahun sekali itu. Masya’alloh.

Menyongsong ramadhan ini, tentu ‘tragedi zakat’ tahunan   akan berulang kembali. Para pegiat zakat, tentu sudah mempersiapkan program-program funding atau galang dana untuk meningkatkan perolehan (income zakat) tahun ini, para pengurus masjid juga bersiap untuk membentuk kepanitiaan zakat (fitrah) yang akan menghimpun zakat-zakat dari masyarakat sekitarnya. Pun, juga dari kementerian agama ataupun pemerintah akan sangat disibukkan dengan penetapan tarif zakat fitrah, koordinasi panitia zakat fitrah dan juga laporan penghimpunan yang harapannya juga akan meningkat tdari tahun lalu. Pertanyaan kita, apakah syareat zakat hanya dikelola dengan cara seperti ini?

Mari kita bertanya pada diri kita sendiri, kalau pelaksanaan zakat hanya dibulan ramadhan yang setahun sekali, maka siapakah yang akan menanggung biaya hidup dari para dhuafa di sebelas bulan kedepannya? Bagi para pegiat zakat baik amil ataupun sekedar panitia, sudahkah kita persiapkan program-program pemberdayaan berkelanjutan yang bisa membangkitkan semangat dan kesanggupan para dhuafa untuk kehidupan berikutnya bukan membiarkan mereka untuk terus disantuni? Bagi pemerintah tentu ini bukan program tahunan yang hanya berbicara aturan dan angka-angka, akan tetapi bagaimana pemerintah juga hadir dalam keseharian mengurusi urusan-urusan mereka para dhuafa.  Inilah ‘PR zakat’ zakat kita yang belum selesai hingga hari ini.

Ukurannya adalah bagaimana meningkatkan kualitas kehidupan mereka para dhuafa baik dari sisi mental spiritual ataupun juga material lahiriah, memiliki kesetaraan (bukan sama rata) dengan saudaranya orang-orang muslim yang kaya. Inilah tugas kita semua untuk memuliakan kehidupan.

Dengan berzakat, insya’allah semuanya akan dimuliakan Allah SWT. Insya’alloh.

Wallahu’alam bish sawab.

Share Button
Oktober 3rd, 2016