SELAMATKAN KELUARGA KITA !

“Wahai sekalian orang-orang yang beriman! Jagalah (selamatkanlah) dirimu dan keluargamu dari (dahsyatnya) an naar (api neraka).” (QS.At Tahrim : 6).

Disaat negeri ini ada 4,5 juta orang mengkonsumsi dan tergantung dengan narkoba, 1,4 juta diantaranya sudah tidak bisa disembuhkan, dan 50 orang meninggal setiap hari akibat narkoba. Inilah awal bencana itu. Presiden Jokowi menilainya sebagai Indonesia darurat narkoba. Walaupun sudah ada BNN (Badan Narkotika Nasional), korbannya masih terus berjatuhan. Tidak kalah dahsyatnya adalah darurat dibidang pornografi dan pornoaksi. Mensos merelease angka 50 trilliun lebih belanja untuk pornografi dan pornoaksi selama 2014. Artinya ada ‘proyek besar’ untuk merusak moral anak negeri ini dengan film, iklan, gambar-gambar, tampilan-tampilan, aksi umbar aurat dalam beragam bentuknya, sampai pada pergaulan bebas, free sex, LGTG (lesbian gay trans gender), dan seterusnya. Kerusakan akibat pornografi menurut Elly Risman, Psikolog di Jakarta lebih dahsyat daripada ketergantungan narkoba. Bila akibat ketergantungan narkoba, kerusakan otak hanya di tiga bagiannya, maka akibat pornografi ini yang dirusak pada lima bagian otak. Dan, tidak ada obat yang bisa menyembuhkannya. Dahsyat  sekali!.

Disisi lain, saat ini negeri inipun sedang dilanda teror. Selain terror berawal dari  para geng motor yang marak di berbagai kota besar, kemudian berkembang menjadi aksi pembegalan dengan aksi yang sadis dan membuat masyarakat tercekam. Keadaan ini terus berlanjut kepada issue radikalisme dan gerakan-gerakan yang dianggap mengancam akidah dan kesatuan NKRI, semisal ISIS. Densus 88 dan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) bergerak cepat dengan penangkapan-penangkapan sebagian warga yang terindikasi ‘radikal’. Situs-situs Islam yang ‘dianggap’ menjadi corong radikalisme pun diberangus. Ada 19 situs Islam yang oleh saran Rand Corporation, BNPT meminta Kemkominfo memblokir situs tersebut.

Kondisi-kondisi tersebut hanyalah beberapa sisi saja karena bila dilanjutkan akan menjadi panjang, dan yang pasti akan terus mengancam dan merusak kehidupan terutama pada pribadi dan keluarga kita sebagai muslim terbesar di negeri ini. Oleh karena itu, ada institusi penting dan siapapun bisa ambil bagian penting di dalam institusi tersebut yaitu KELUARGA.

Keluarga adalah institusi sentral bagi pembentukan karakter kepribadian yang unggul, sekaligus benteng atas serbuan pengaruh-pengaruh buruk yang datang dari luar. Saking pentingnya institusi keluarga ini, Allah SWT sebagaimana QS. At-Tahrim ayat 6 diatas, mengingat kepada orang-orang yang beriman untuk menjaganya dari pengaruh-pengaruh buruk dalam kehidupan ini. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam aksi menjaga dan menyelamatkan kehidupan keluarga muslim), diantaranya:

  1. Kita jaga dan selamatkan keluarga kita dengan akidah Islam yang benar. Akidah adalah pokok dari segala pokok urusan kehidupan seorang muslim yang ingin selamat tidak hanya di dunia saja, namun juga kekekalan saat di akherat nanti. Di dunia yang bias saat ini, kita sering dibuat kagum dengan capaian, prestasi dan ketokohan seseorang baik masih hidup maupun setelah meninggalnya, padahal akidahlah yang menentukan selamat tidaknya seseorang. Bila kafir atau musyrik meskipun doktor, professor, atau presiden sekalipun amal-amal mereka tidak diterima Allah SWT, kebaikannya seperti fatamorgana yang tampak indah namun ketika diburu hampa/kosong. “Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. …….” (QS An-Nur: 39)
  2. Suami – Istri menjalankan tanggungjawabnya dengan baik sesuai dengan yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, diantaranya;  suami menjadi pemimpin di dalam keluarga serta berkewajiban mencukupi keluarga dengan nafkah, pakaian, dan rumah dengan cara yang baik dan halal, memberikan keteladanan, bimbingan dan pembinaan, serta bergaul dengan meluangkan waktu dan komunikasi yang baik. Adapun istri harus mendahulukan hak suami dibanding dirinya, menjaga harta suami, dan bila ada penghasilan sendiri diberikan kepada keluarga untuk membantu suami dan menjadi sedekahnya, lebih banyak  (kembali) ke rumah untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak dengan akidah yang benar dan akhlaq yang baik.
  3. Mendidik anak-anak dengan baik, yaitu dengan al-Qur’an. Suatu kali, amirul mukmini Umar bin Khattab di datangi seseorang dengan anaknya dan mengadukan kepada Umar tentang anaknya yang durhaka. Anaknyapun bertanya kepada amirul mukminin, ‘Apa hak anak dari orang tuanya?’ Umar menjawab, ‘ada 3!’. (1) memilihkan ibu (calon ibu) yang baik (saleha), (2) memberikan nama yang baik, dan (3) mengajarkan al-qur’an. Anak tersebut tidak mendapatkan ketiga-tiganya dari bapaknya karena ibunya adalah  seorang budak, dia diberi nama ‘Zul’ yang artinya kumbang pemakan kotoran, dan tidak diajarkan al-Qur’an. Inilah orang tua durhaka!
  4. Memilih lingkungan yang baik. Bertetangga, teman pergaulan, sekolah, dan pekerjaan adalah lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap penjagaan dan penguatan nilai-nilai yang ditanamkan di keluarga. Banyak diantara anak-anak kita yang nakal disebabkan teman-temannya, pemahaman dan keyakinannya melenceng akibat pengaruh didikan sekolah, pergaulan dan lain-lain. Adalah kewajiban orang tua memilih lingkungan yang baik. Apabila tidak ditemukan dan keluarga terancam, maka hijrah menjadi pilihan ketika keluarga menjadi jalan keselamatan dunia akherat. Insya’allah.

Mikhael Gorbachev boleh menyesal di tahun 1991 dimana negara kesatuan Uni Sovyet yang digdaya itu terpecah-pecah menjadi negara-negara kecil seperti rusia saat ini, karena keruntuhan awalnya sudah dimulai dengan hancurnya institusi keluarga saat itu di masyarakat uni soviet. Dunia barat saat inipun, institusi  keluarga juga sedang mengalami keruntuhan secara masif.  Akankah hal ini juga terjadi di keluarga kita kaum muslimin? Kita semua tidak berharap. Wajib bagi kita menjadikan keluarga kita sebagaimana sabda Rasulullah, ‘baiti jannati’ – rumahku adalah surgaku’. Insya’allah.

Wallahu’alam bishawab.

Share Button
Lewat ke baris perkakas