MEMPRODUKTIFKAN USIA

Oleh : Ir. Moch. Arief

(Direktur Eksekutif Nurul Islam Group – Batam)

 

Berbicara produktifitas gambaran yang muncul di benak kita pada umumnya adalah usia muda atau dewasa yang biasanya dijiwai dengan semangat yang menggelora, kekuatannya yang dahsyat serta kecepatannya yang melesat. Namun sebaliknya, usia tua disifati sebagai usia tidak produktif atau sering dikatakan sebagai usia pensiun yang waktunya hanya dihabiskan dengan menimang cucu dan menunggu kiriman bulanan. Produktifitas juga sering dikaitkan pada dunia pekerjaan yang memang tuntutannya pada hasil yang harus dicapai, sehingga hitungan produktifitas seseorang dihitung pada seberapa banyak produk yang dihasilkan persatuan waktu, itulah produktifitas yang biasa dipahami selama ini. Di sisi lain, kita juga sering mengatakan kepada anak-anak yang dipiring makanannya masih ada sisa satu atau dua buah nasi dengan menyebutnya sebagai pemborosan. Tapi kita tidak pernah berpikir betapa banyak waktu dari usia kita ini yang boros dan tidak produktif, sementara sebutir nasi kita persoalkan sebagai pemborosan? Bagi yang mau merenungi kehidupan ini, tentu dua-duanya harus dipersoalkan!

Dan kita bersyukur, contoh terbaik dalam memproduktifkan usia ini adalah siapa lagi kalau bukan  Rasulullah SAW. Baliau adalah nabi yang diutus Allah SAW sebagai manusia terbaik, penerima wahyu (al-qur’an) dimana rentang kehidupan beliau merupakan praktek terbaik produktifitas implementasi al-qur’an dalam kehidupan ini.  Ummul mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anhu,  ketika ditanya oleh sahabat Hisyam bin Amir radhiyallahu ‘anhu tentang bagaimana akhlak Rasulullah, maka ‘Aisyah berkata: “Bukankah engkau sering membaca Al-Qur’an?”, beliau menjawab: “Ya”, ‘Aisyah berkata: “Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an”.  (HR. Muslim). Yang menjadikan usia Rasulullah SAW begitu produktif adalah karena keseharian Rasulullah SAW dipandu oleh Al-Qur’an. Bagaimana Rasulullah SAW memulai kegiatannya dari bangun pagi, menapaki siangnya, sore hingga tidur di malam hari, semua dipandu oleh Al-Qur’an. Allah sendiri yang memandunya, sebagaimana disebutkan dalam QS. An Najm ayat 3 – 4 ‘Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).’ Oleh karena itu, beliaulah contoh terbaik dalam semua hal.

Contoh produktifnya Rasulullah SAW dibandingkan kita hari ini, misalnya Pertama kali Rasulullah SAW memimpin perang bersama tiga ratus sahabat melawan seribu kaum kafir saat itu yang terkenal sebagai perang badar. Perang yang berakhir dengan kemenangan Rasulullah SAW ini terjadi pada tahun kedua hijriah. Berapa usia rasulullah saat itu? 55 tahun. Setelahnya, tercatat sepuluh kali beliau memimpin pasukan melawan kaum kafir, dan dibeberapa peperangan selebihnya belasan kali diserahkan kepada para sahabatnya. Dan bahkan menjelang meninggalnya, beliau masih berkesempatan mempersiapkan pasukan yang dipimpin anak muda, Usamah bin Hariz untuk melawan pasukan Persia dan Romawi. Pertanyaannya, bagaimana keadaan kita di usia 55 tahun hari ini? Bukankah ini usia yang disebut pensiun hari ini? Kalau Rasulullah memimpin perang di usia tersebut, bukankah kita malah istirahat hari ini? Kalau Rasulullah SAW masih mempersiapkan perang diakhir usianya, apa yang kita persiapkan di akhir usia kita? Menikmati kehidupan yang hedonis ini? Inilah cara hidup Rasulullah yang sangat produktif yang dipandu oleh wahyu, sementara kita apa panduannya? Kita layak bertanya dengan panduan yang mengarahkan hidup kita hari ini!

Kita lanjutkan catatan produktifitas rasulullah SAW, bahwa saat beliau menutup usia seluruh jazirah arab telah dibawah pangkuan Islam dan jutaan penduduknya telah memeluk Islam. Beliau pun meninggalkan kader-kader pemimpin umat terbaik bahkan manusia terbaik setelah Rasulullah SAW yaitu Abu Bakar, Umar, Usman, Ali dan para sahabat mulia lainnya. Bahkan para ahli ilmu didikan Rasulullah SAW semuanya ada. Subkhanallah!. Inilah produktifitas yang ditampilkan rasulullah yang mampu membangkitkan dunia dengan peradaban yang agung, mulia, beradab dan bercahaya dibawah panji Islam.

Siapapun yang menapaki jalan sebagaimana peri kehidupan Rasulullah SAW, Insya’allah produktifitas yang akan dihasilkan akan sebagaimana Rasulullah SAW capai. Oleh karena itu hal-hal penting yang perlu direnungkan kembali oleh kaum muslimin, yaitu :

  1. Menguatkan aqidah Islam yang kokoh dan lurus.

Persoalan aqidah adalah persoalan yang fundamental yang menjadikan diterima tidaknya amal seseorang dihadapan Allah SWT. Aqidah sebagaimana ditampilkan oleh para sahabat dalam hal meyakini kebenaran risalah yang dibawah oleh Rasulullah SAW. Aqidah yang tidak tercemari oleh kesyirikan dan khurafat yang mengurangi keyakinan kita kepada Allah SWT semata. Itulah aqidah para salafush shalih sesuai al-qur’an dan as sunnah.

  1. Menjadikan Al-Qur’an dan As Sunnah menjadi sumber pengambilan hukum baik dalam perkara-perkara ibadah maupun muamalah. Serta menjadikan sirah nabawiyah dan sahabiyah serta salafush shalih sebagai landasan dalam memahami praktek ajaran Islam ditengah-tengah masyarakat.
  1. Tidak menjadikan system di luar Islam di bidang apapun sebagai panduan di dalam menata kehidupan ini, kecuali kembali kepada system / ajaran Islam yang metodenya (manhaj) telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, para sahabat, dan salafush shalih.
  1. Terus belajar mengkaji ilmu-ilmu Islam dari sumbernya yang shahih, dan juga mengkaji sirah nabawiyah dan sahabiyah sebagai rujukan penerapan al-Qur’an dan As Sunnah di dalam kehidupan sehari-hari.
  1. Jangan berhenti untuk terus beramal shalih. Inilah bekal yang akan mengantarkan kita setelah keimanan, untuk kembali keharibaan Allah SWT kelak di hari akhir dalam keadaan ridha dan Allah pun ridha melihat kedatangan kita. Insya’allah.

Dengan kelima hal tersebut, mari kita melihat diri kita sendiri sambil merenung seberapa besar produktifitas usia kita di banding Rasulullah SAW? Tentu tidak akan sebanding, setidaknya ada karya (amal shalih) yang bisa kita torehkan saat ini agar bisa dikenang oleh generasi anak cucu kita!

Wallahu’alam bishawab.

Share Button
Lewat ke baris perkakas